Sunday, December 13. 2009
Kebanyakan NMS akan menggunakan ping untuk mendeteksi host yang dimonitoring. Tidak terkecuali Zenoss (asumsi: versi 2.5.1 King Crab). Tapi ada kalanya sebuah host tidak me-reply ping request dikarenakan setup firewall yang tidak mengijinkan reply request ping tersebut. Kejadian serupa saya alami juga, salah satu host yang dimonitoring oleh Zenoss terdeteksi down karena tidak merespon ping request dari Zenoss. Padahal host tersebut masih up dan baik-baik saja.
Zenoss memiliki beberapa cara untuk mendeteksi apakah sebuah host masih up atau tidak. Ping adalah salah satu di antara sekian cara. Jadi jika kita men-disable ping monitoring, Zenoss masih bisa melakukan assessment dengan cara lain. Cara mendisable ping monitoring ke host-host tertentu adalah sebagai berikut.
Jika host tersebut berada di hierarchy yang berbeda-beda dan cenderug tersebar:
- Pada menu panel di sebelah kiri, di bagian Management, klik Collectors,

lalu klik menu drop down seperti nampak pada gambar dan pilih Add Monitor...

Isikan nama yang akan kita berikan di bagian Add Collector, misal dengan nama NO_PING_HOST:

klik OK dan pada table Zenoss Collectors akan muncul Collector yang barusan kita buat.

- Klik Collector NO_PING_HOST, lalu isikan parameter "Ping Time Out (secs)" dan "Ping Tries" dengan 0 (nol).

- Pada tabel menu sebelah kanan, klik berturut-turut: Device List, lalu klik host yang akan kita pilih untuk tidak dimonitor dengan ping, pilih tab Edit. Klik drop down menu pada parameter Collector yang sebelumnya adalah localhost dan ubah menjadi NO_PING_HOST.

lalu klik Save. Ulangi step yang sama untuk host-host yang akan dimonitor dengan cara yang sama.
Jika host-host yang dimonitoring tersebut berada di satu hierarchy, misal /Devices/Server/Linux, kita bisa mendisable dari hierarchy tersebut dengan cara:
- Pada tabel menu sebelah kiri bagian Classes, klik Devices, lalu Server, lalu Linux.
Pilih tab zProperties, dan pada parameter drop down zPingMonitorIgnore pilih True. Terakhir klik Save.
- Setelah langkah-langkah di atas, jangan lupa untuk melakukan clear pada Event, dengan memilih menu Event Console, lalu piling Event /Status/Ping dan klik tanda silang pada bagian kiri atas, untuk menutup Event tersebut:

Tuesday, May 6. 2008
Sebelumnya saya saya mau mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya, kepada teman-teman yang sempet kasih comment dan mengajukan beberapa pertanyaan di beberapa posting tetapi tidak saya reply sampe lama banget, dikarenakan saya baru tau kalo ada comment-comment tersebut. Bahkan ada temen mahasiswa yang sedang menulis skripsi tentang Nagios, yang menanyakan sesuatu yang sebenernya saya tau dan paham, tetapi baru sore ini saya baca. Bener-bener saya minta maaf. Oleh karena itu pada sisi sebelah kanan bar di sini saya berikan tool "last comment posted" untuk menghindari hal-hal seperti itu. Sekali lagi mohon maaf.
Pada Ramadhan yang lalu saya menuliskan cara instalasi Nagios 2.x di FreeBSD 6.x. Nah berdasarkan instalasi tersebut, sore ini saya mengupgrade Nagios versi 2.x tersebut ke versi Nagios 3.0.1 Stable.
Dengan asumsi bahwa instalasi sama persis seperti pada postingan tersebut, maka sebelumnya saya melakukan pengamanan untuk 3 buah file konfigurasi supaya dapat digunakan antara lain file commmands.cfg, services.cfg, dan hosts.cfg, karena di dalam file-file tersebut terdapat konfigurasi host-host yang sudah saya definisikan, dan beberapa perintah modifikasi saya sendiri. Selain itu, pada instalas Nagios versi 3.x untuk file hosts.cfg dan services.cfg secara default memang tidak ada, kecuali file commands.cfg. Nah daripada saya harus buat lagi ke dua file tersebut, mending saya selamatkan saja. Khusus untuk file commands.cfg, saya hanya akan mengambil beberapa konfigurasi buatan saya sendiri yang ada di dalam file tersebut, lalu saya append ke file commands.cfg bawaan Nagios 3.x.
Langkah-langkah upgrade nya adalah:
- Download file source Nagios 3.x dan nagios-plugins terbaru:
root# cd /usr/local/src
root# wget http://osdn.dl.sourceforge.net/sourceforge/nagios/nagios-3.0.1.tar.gz
root# wget http://osdn.dl.sourceforge.net/sourceforge/nagiosplug/nagios-plugins-1.4.11.tar.gz
- Install Nagios dan nagios-plugins yang terbaru:
root# tar -zxvf nagios-3.0.1.tar.gz
root# tar -zxvf nagios-plugins-1.4.11.tar.gz
root# cd nagios-3.0.1
root# ./configure --with-command-group=nagcmd
root# make all install install-config
root# cd ../nagios-plugins-1.4.11
root# ./configure
root# make all install clean
- Edit file cgi.cfg dan ganti user nagiosadmin menjadi login http kita sendiri
- Copy file services.cfg dan hosts.cfg ke dalam direktori /usr/local/nagios/etc/objects:
root# cd /usr/local/nagios/etc
root# mv services.cfg objetcs/
root# mv hosts.cfg objects/
dan edit file nagios.cfg untuk membaca kedua file tersebut dengan menambahkan baris-baris berikut ini:
cfg_file=/usr/local/nagios/etc/objects/hosts.cfg
cfg_file=/usr/local/nagios/etc/objects/services.cfg
Lalu gabungkan file commands.cfg lama dengan file commands.cfg yang baru:
root# cat /usr/local/nagios/etc/commands.cfg >> /usr/local/nagios/etc/objects/command.cfg
Setelah itu file commands.cfg harus kita edit dan kita delete konfigurasi default bawaan dari Nagios yang lama, dan menyisakan konfigurasi tambahan kita sendiri selama memakai Nagios versi lama. Kalau tidak, Nagios yang baru akan mendeteksi error deklarasi kembar.
- Ubah kepemilikan direktori /usr/local/nagios:
root# cd /usr/local
root# chown -R nagios:nagios nagios
- Check apakah semua sintaks konfigurasi sudah benar:
root# /usr/local/nagios/bin/nagios -v /usr/local/nagios/etc/nagios.cfg
Jika tidak ada error, jalankan nagios:
root# /usr/local/nagios/bin/nagios -d /usr/local/nagios/etc/nagios.cfg
SELAMAT MENCOBA!
refence
Monday, April 28. 2008
Beberapa waktu yang lalu saya kebingungan memasukkan lokasi di Zenoss untuk daerah yang tidak dikenali alamatnya oleh Google Map. Tetapi ternyata setting Location tersebut juga mengenali input berupa lokasi berdasarkan latitude dan longitude. Cara ini adalah sama seperti ketika memasukkan sebuah lokasi di Nagios + Google Mapdi postingan yang lalu.
Misalnya saya ingin memasukkan lokasi salah satu BTS yang berada di daerah Borobudur dengan latitude dan longitude: -7.755898,110.264282, saya tinggal memasukkannya dengan cara sama persis dengan cara memasukkan nama kota di postingan sebelumnya. Setelah klik Save, maka sebuah garis akan ditarik menuju lokasi baru tersebut.
Monday, April 14. 2008

Pada mulanya, saya dengan Ayik berencana membangun sebuah mail server pesanan salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Awal pembahasannya sih, mail server ini tidak memiliki fitur macem-macem. Tapi belakangan Ayik punya ide untuk menanam monitoring server di mesin yang sama, dan dengan tambahan fitur self healing. Ide nya adalah, ketika salah satu service dari mesih tersebut mati, maka step pertama yang dilakukan mesin monitoring tersebut adalah mendeteksi bahwa service tersebut mati, kemudian akan mencoba melakukan restart service tersebut tanpa campur tangan administrator. Setelah dalam sekian kali percobaan dan service tetap terdeteksi mati, maka baru dilakukan alert ke administrator via email atau sms, atau media yang lainnya (denger-denger Nagios bisa kirim alert via Yahoo Messenger).
Jadi rencananya, Nagios ini akan digunakan juga untuk mendeteksi update Clamav, ssh, dan beberapa service yang bisa ditangani oleh Nagios. Tapi yang akan digunakan dalam contoh kali ini adalah service HTTP.
Asumsi
- Operating system mesin yang digunakan adalah CentOS 5.x. Tetapi perintah-perintah di sini cukup compatible dengan mesin Linux/UNIX yang lainnya.
- Nagios yang digunakan adalah versi 3.0.1 stable.
- Instalasi CentOS sudah termasuk Apache2, PHP dan MySQL. Jika menggunakan CentOS versi 5.x, otomatis PHP yang digunakan adalah PHP5 dan versi MySQL juga versi 5.x.
- Bukan server produksi.
Instalasi
Continue reading "NMS Self-Healing dengan Nagios di CentOS 5.x"
Tuesday, April 8. 2008
Salah satu fitur eye candy *halah* dari Zenoss adalah implementasi monitoring dengan Google Map. Tujuannya? Hanya sebagai visualisasi kondisi link tingkat regional. Untuk visualisasi antar wilayah dalam kota, kayaknya kok masih repot ya, kecuali ada yang mau bersusah payah mengupload hasil trace lokasi dalam kota.
Lalu kenapa dengan visualisasi? Bayangkan jika monitoring command center kita seperti ini:

Gambar tersebut adalah model NOC yang ideal, dengan beberapa layar besar di bagian depan, untuk menunjukkan overall kondisi jaringan di seluruh wilayah jangkauan sebuah ISP. Dengan kondisi seperti itu, akan sangat mudah untuk melihat visualisasi secara garis besar. Sedangkan detail bisa dilihat di masing-masing PC monitoring. Ya kira-kira begitulah idealnya. Hehehe.... *duh jadi pengen*
Hal yang sama bisa kita lakukan dengan Zenoss. Lokasi di kota-kota remote akan ditambilkan di Map yang diload oleh Zenoss dari Google Map. Alamat yang digunakan untuk masing-masing lokasi adalah alamat yang dianggap Google valid. Cuma kadang-kadang ngaco juga Google Map ini. Sebagai contoh, jika kita menyebutkan kota Bandung, maka yang akan kita bayangkan adalah sebuah kota dingin di daerah Jawa Barat. Tetapi ternyata Google Map punya pendapat lain:

Seharusnya ini bisa dibetulkan, tapi memang saya belum tau caranya. Kapan-kapan saya tanya dulu ke teman-teman bagaimana caranya mengedit Google Map. Oke, kembali ke Zenoss. Untungnya sebagian kota yang akan saya gunakan di contoh dianggap valid oleh Google Map.
Continue reading "Zenoss dengan Google Map"
Friday, April 4. 2008
Setelah berhasil menginstall Zenoss di server Ubuntu, kali ini waktunya menambahkan device di Zenoss. Zenoss memiliki kemampuan untuk mengkonfigurasi monitoring yang dibutuhkan untuk sebuah sistem. Dalam contoh kali ini, saya akan mencoba menambahkan server itu sendiri ke dalam monitoring Zenoss. Caranya?
- Secara default, instalasi awal Ubuntu Server yang menyertakan paket Net-SNMP, akan memberikan default konfigurasi bawaan di /etc/snmp/snmpd.conf. Konfigurasi di dalam file ini cukup lengkap, sehingga saking lengkapnya, dengan menjalankan snmpwalk -c public -v 1 localhost, kita hanya akan memperoleh akses ke beberapa OID saja. Lebih secure tentunya, tapi saya lebih suka jika perintah di atas dapat mengambil semua informasi yang dibutuhkan oleh Zenoss ketika menambahkan device ke daftar monitoringnya. Jadi yang akan kita lakukan adalah merename file snmpd.conf yang asli ke file snmpd.conf.ori, lalu membuat sendiri file snmpd.conf yang baru.
root# cd /etc/snmp
root# mv snmpd.conf snmpd.conf.ori
root# pico snmpd.conf
Lalu di dalam file snmpd.conf yang baru, kita isikan seperti ini:
rocommunity public
Nah setelah itu reload SNMP:
root# killall -HUP snmpd
Dan sekarang jika menjalankan perintah snmpwalk -c public -v 1 localhost, kita akan mendapatkan lebih banyak output. Cara ini tidak disarankan bagi mereka-mereka yang memiliki concern tinggi terhadap security. Ingat: Security Vs. Usability. Kita harus mengorbankan salah satu untuk kepentingan yang kita anggap prioritas lebih tinggi .
- Login ke server Zenoss kita. Login screen akan nampak seperti ini:

Masukkan password admin seperti pada saat instalasi awal.
- Pada bagian panel menu sebelah kiri, di section Management, klik menu Add Device. Kita akan dibawa ke sebuah screen untuk mengisikan informasi yang dibutuhkan untuk menambahkan sebuah host ke dalam sistem monitoring. Berikut ini tampilan dan contoh isiannya:
Continue reading "Menambahkan Device di Zenoss"
Thursday, April 3. 2008
Akhirnya server mainan saya yang baru dateng juga. Kali ini saya menginstall Linux Ubuntu Server Edition 7.10, kemarin agak kagol dengan FreeBSD untuk instalasi Zenoss.
Baiklah, seperti biasa:
Asumsi
- Linux Ubuntu Server versi 7.10 sudah terinstall standard. Instalasi meliputi SNMP, MySQL, ssh server dan lain-lain.
- Bukan server produksi, you know why.
- Versi Zenoss yang diinstall adalah 2.1.3 (per tulisan ini).
- Versi MySQL yang digunakan adalah 5.x. Ini wajib supaya bisa jalan dengan Zenoss.
- Pada server sudah terinstal rrdtool
Instalasi
- Create direktori zenoss dan group zenoss, setelah itu create user zenoss dengan direktori dan group tersebut. Jangan lupa, download juga file source Zenoss ke direktori zenoss yang sudah dicreate tersebut:
root# mkdir /usr/local/zenoss
root# groupadd zenoss
root# useradd zenoss -g zenoss -d /usr/local/zenoss -s /bin/tcsh
root# cd /usr/local/zenoss
root# wget http://optusnet.dl.sourceforge.net/sourceforge/zenoss/zenoss-2.1.3-0.tar.gz
root# tar -zxvf zenoss-2.1.3-0.tar.gz
root# chown -R zenoss:zenoss /usr/local/zenoss
- Install paket tambahan yang diperlukan untuk Zenoss. Beberapa paket secara default belum ada di instalasi baru Ubuntu Server ini.
root# apt-get install python2.4 python2.4-dev autoconf swig patch libmysqlclient15-dev gcc g++ make
Oh ya, catatan tambahan. Server Ubuntu versi 7.10 secara default akan mengikutsertakan Python versi 2.5, tetapi Zenoss ternyata memerlukan versi 2.3 atau 2.4. Jadi pada proses penambahan package kita tambahkan Python versi 2.4. Jika tidak, instalasi Zenoss akan komplen terhadap versi Python.
- Instal Zenoss dengan masuk ke user zenoss.
root# su zenoss
zenoss~> cd /usr/local/zenoss/zenoss-2.1.3
zenoss~> sh install.sh
Seperti instalasi sebelumnya, pada proses ini akan muncul beberapa pertanyaan yang perlu diisi, antara lain password login admin, nama database yang akan digunakan di MySQL, login root MySQL dst.
- Setelah selesai, akan muncul instruksi seperti ini:
=========================================================
zensocket must be setuid. As root, execute the following:
chown root:zenoss /usr/local/zenoss/bin/zensocket
chmod 04750 /usr/local/zenoss/bin/zensocket
=========================================================
Lakukan instruksi persis seperti yang tertera. Tidak seperti di FreeBSD, kita tidak akan mengalami kendala apa pun di sini.
Untuk penggunaan Zenoss sendiri, akan saya tulis di posting berikutnya.
Sementara saya kasih sneak peak instalasi Zenoss di server saya yang sudah jalan dulu (biar tambah pengen heheheh):

SELAMAT MENCOBA!
|
Comments